Hanya Anak-anak yang Menghitung Domba
Thursday, June 16, 2016
Saat masih kecil, tontonan favorit
saya adalah Mr. Bean. Lelaki itu sangat unik, lucu, dan tak bisa ditebak.
Menonton tingkahnya adalah hiburan saya sehari-hari. Dalam salah satu episode,
diceritakan kalau Mr. Bean tidak bisa tidur. Hari sudah larut malam tapi dia
malah insomnia. Supaya mengantuk, dia pun mengambil gambar sekumpulan domba,
lantas menghitungnya satu per satu. Barangkali sejak itulah saya ikut-ikutan
menghitung domba kalau sulit tidur.
![]() |
Photo by Andrea Lightfoot on Unsplash |
Namun kebiasaan itu sudah lama
terlupakan. Saat beranjak dewasa, saya lebih suka tidur ditemani buku, ponsel,
atau laptop. Kadang malah hanya ditemani pikiran-pikiran sendiri. Yang jelas
saya sudah berhenti menghitung domba. Tapi belum lama ini, saya teringat
kembali setelah melihat ilustrasi buatan @fauzanrodhi. Dia menggambar dua ekor
domba dan mencantumkan kata-kata Chris John: Only kids count sheep to fall asleep. Count your debts, your mistakes,
your heartache and cry yourself to sleep like a grown up.
Kutipan itu membuat saya terhenyak.
Rupanya usia telah mengubah kita. Mengubah pemikiran, kebiasaan, dan
mimpi-mimpi. Dulu hidup kita sangat
sederhana. Yang perlu dihitung hanyalah domba-domba menjelang tidur. Namun saat
beranjak dewasa, begitu banyak yang harus kita hitung: tagihan, kesalahan yang
kita perbuat, masalah yang memusingkan, dan sebagainya. Sampai tidur tak lagi
mendamaikan. Kadang kita justru menangis dan tak bisa terlelap. Barangkali
berharap waktu berjalan mundur, supaya masa kecil bisa kembali.
Kadang beranjak dewasa memang terasa
menyeramkan. Sebab lebih banyak tanggung jawab. Lebih sedikit pemakluman. Mau
tak mau kita harus keras pada diri sendiri. Berusaha melakukan yang penting,
walau tidak ingin. Berhubungan dengan orang tertentu, walau tidak ingin.
Meninggalkan kebiasaan, walau tidak ingin. Semua demi kehidupan yang lebih
baik. Awalnya memang terasa berat. Namun seiring bertambahnya usia, kekuatan
kita pun bertambah.
Saat ini, saya beruntung karena masih
menyandang status aman: mahasiswa. Itu berarti saya bisa belajar dan berkarya
tanpa terlalu memusingkan hal lain. Namun keadaan ini tak berlangsung selamanya.
Tahun depan, saya berencana untuk lulus. Target saya adalah punya pekerjaan
tetap sebelum wisuda. Saya juga ingin meraih kebebasan finansial secepat
mungkin, supaya bisa hidup sendiri dan membiayai keluarga. Sepintas terlihat sederhana.
Namun kalau dilakukan mungkin tidak sesimpel itu.
Saat membayangkan masa depan, ada
kalanya kita takut bertumbuh. Takut mengemban tanggung jawab yang lebih besar.
Ngeri membayangkan tantangan yang makin sukar. Namun santai saja. Kalau terlalu
tegang dan serius, kita malah jadi orang dewasa yang membosankan. Tak selamanya
bertumbuh itu berat. Kalau disikapi dengan santai, kita bisa menikmati setiap
langkahnya. Bisa mensyukuri semua yang ada dan terjadi.
Saya suka memerhatikan orang dewasa
yang menikmati hidup. Salah satunya adalah dosen saya sendiri. Perempuan ini berusia
sekitar 30 tahun. Belum punya pasangan dan sepertinya tak berniat cepat-cepat
menikah. Beliau pernah berkata kalau ingin fokus ke pendidikan dulu. Dengan
latar belakang S1 dan S2 yang keren, rupanya masih ingin lanjut ke S3. Namun
yang paling saya sukai, beliau terlihat menikmati hidupnya. Sehari-hari
bersikap ceria dan suka melucu. Dari obrolan dan foto-foto yang diunggahnya di
Instagram, saya mendapat kesan kalau beliau mensyukuri berbagai hal seperti keluarga,
makanan, olah raga, teman, dan sebagainya.
Menurut saya, seperti itulah orang
dewasa yang keren. Punya mimpi-mimpi yang ingin dicapai. Berupaya untuk menuju
ke sana. Serius tapi tetap santai. Bertumbuh tanpa melupakan akar. Ternyata,
kita bisa menjadi dewasa tanpa melupakan sisi kanak-kanak. Terkadang justru
sisi itulah yang membuat hidup lebih berwarna. Jadi kita bisa berusaha sepanjang
hari dengan sekuat tenaga—lalu saat tiba waktunya tidur, tak ada salahnya
menghitung domba.
2 comments
Melepas status yang 4 tahun sudah nempel di diri kita memang nggak semudah melepas status 6 tahunny anak SD yah. Aku juga mengalami deg-deg an yang sama menjelang kelulusan ini. Ngomong-ngomong, waktu itu Mr. Bean ngitung dombanya curang, pakai kalkulator nggak sih? hehehehe. Baca tulisan ini bikin aku jadi ingat ada yang bilang, bekerjalah seperti orang dewasa, tertawa dan bersenang-senanglah seperti anak kecil :))
ReplyDeleteIya ya, soalnya kenangan di kampus lebih banyak dan berkesan. Kadang takut buat ninggalin itu semua, tapi masa depan pasti lebih indah. Semangat ngampus sampai akhir ya! 😄
DeleteWkwkw aku udah lupa malah. Betuul, biar hidupnya tetep seimbang. Bisa berprestasi & bahagia 😊 Makasih ya udah baca tulisan ini dan ngasih komentar~