Sepotong Sore di Akhir September
Wednesday, September 28, 2016
Ini makan siang yang sangat
terlambat. Kita duduk bersebelahan, menyantap sandwich besar dengan isian sayur
dan daging. Di luar langit mulai gelap. Puluhan pepohonan tinggi berjajar di
depan kedai. Sudah lama saya ingin ke tempat ini—sebuah kedai tersembunyi,
menjual hidangan organik yang menggoda. Sore itu hanya ada sedikit pengunjung.
Kita berdua makan dengan tenang, sesekali mengobrol, dan menunggu percakapan sebenarnya
dimulai. Sudah saatnya saya memberi jawaban.
Photo by Priscilla Du Preez 🇨🇦 on Unsplash |
Kau menatap saya dengan cemas.
Seketika itu, semua jawaban yang sudah disusun menjadi berantakan. Lidah saya
kelu. Perlahan saya memindai sosokmu—lelaki yang rapi seperti biasa, dengan
kemeja dan sepatu, juga kacamata bergagang hitam. Kau memang selalu memerhatikan
penampilan. Bahkan kau memerhatikan berbagai detail kecil: bagaimana caramu
bicara, apa jam tangan yang kaupakai, dan memastikan setumpuk agendamu terlaksana
dengan baik. Entah bagaimana… kau selalu bisa menyelipkan saya di tengah
kesibukanmu.
Saya menghela napas. Kembali mengingat
perkenalan kita. Seandainya tak mengurus acara yang sama, mungkin kita tak akan
bertemu. Namun kini justru saling kenal dengan baik. Sanggup mengobrol tentang
apa saja. Berbalas pesan singkat. Menelepon lama-lama. Kita mulai menghabiskan
waktu berdua, makan dan menonton bioskop. Waktu pun melesat cepat. Saat terasa makin nyaman, kau pun mengaku: kau telah jatuh cinta pada saya.
Momen itu terjadi seminggu lalu. Sekarang
kita berada di kedai ini. Sudah selesai menyantap sandwich dan masing-masing
menyesap segelas minuman. Kau kembali menatap saya. Menunggu jawaban. Dengan
gugup, saya pun mulai bicara. Tentang perasaan padamu. Tentang semua yang telah
kita lalui. Tentang sekelebat masa depan. Tentang saya. Tentang kamu. Tentang
kita berdua. Setelah menyampaikan semuanya, saya berhenti sejenak. Lalu dengan
takut-takut mengamati wajahmu.
Kau hanya terdiam. Merenungi gelas di
depanmu. Membiarkan detik demi detik bergulir lambat. Lalu kau mengalihkan
pandangan pada saya, dan sambil tersenyum berkata, “Kok kamu kelihatan sedih?
Kan aku yang ditolak. Jangan ambil jatah sedihku dong!”
Saya balas tersenyum dengan bibir
gemetar. Penolakan sungguh tak mudah diucapkan. Tak mudah pula untuk didengar.
Sekeras apa pun menutupinya, perasaan tak bisa disembunyikan. Kesedihan terpeta
jelas di wajahmu. Namun dengan tenang, kau berkata bahwa semua baik-baik saja.
Kita tetap bisa berteman. Tetap bisa jalan-jalan dan makan berdua. Saya jadi
ingin menangis. Seandainya bisa, saya ingin membalas perasaanmu, tepat dengan
cara yang kau inginkan. Namun… saya tak mampu. Jauh di lubuk hati, saya tahu
bahwa bukan kau orang yang saya cari.
Sore pun beranjak malam. Makanan
telah lama habis. Kita bersiap pulang. Saya memberimu pelukan terakhir
sebelum berpisah. Motor saya membelah angin malam. Kau dan motormu berada tepat
di belakang. Tadinya saya mengira akan pulang bersama seperti biasa—sebab
tempat tinggal kita berdekatan. Namun saat saya menoleh ke belakang, ternyata
kau sudah tak ada.
2 comments
Ke mana, dia?
ReplyDeleteMenghilang dalam kegelapan :)
Delete