Ke Mana Manusia Pergi Setelah Meninggal?
Thursday, February 16, 2017
Sebelum cerita dimulai, perlu ada sedikit
peringatan. Tulisan kali ini berisi pemikiran saya tentang manusia setelah
meninggal. Akan muncul tebakan demi tebakan. Tak ada yang didasari penelitian
langsung, sebab saya kan belum pernah mati. Jadi sebagian besar hanya
imajinasi. Karena itu mohon tak ditanggapi kelewat serius. Saya hanya ingin
menyampaikan pemikiran, tak ada maksud lain. Tapi kalau Anda takut terpengaruh,
atau takut imannya terguncang, lebih baik tak lanjut membaca. Terima kasih :)
![]() |
Photo by davide ragusa on Unsplash |
Nah, mari kita mulai.
Beberapa minggu lalu saya mengobrol
dengan seorang kawan. Umurnya jauh di atas saya. Beliau adalah ibu rumah
tangga. Merintis keluarga sejak sangat muda. Selama puluhan tahun, beliau mengalami
banyak hal—baik yang manis, pahit, maupun yang amat sangat pahit. Tak heran kebijaksanaan
tumbuh subur dalam dirinya. Enak diajak ngobrol tentang apa saja. Suatu hari, kami
berdua membahas kematian. Sesuatu yang tak tampak tapi merayap dekat.
Saya bertanya, apa yang beliau inginkan
setelah meninggal? Apa berharap masuk surga seperti kebanyakan orang? Atau jadi
hantu saja? Beliau menjawab, “Kalau bisa memilih, aku ingin semuanya selesai
saat meninggal. Mungkin seperti televisi yang dimatikan. Tiba-tiba hitam, gelap,
tak ada suara, pokoknya usai. Tak perlu kehidupan setelah kematian. Aku tak
mengharapkan surga, neraka, reinkarnasi, atau lainnya. Sebab hidup sekali saja
sudah cukup.”
Jawabannya agak mengherankan. Sebab,
selama ini reinkarnasi adalah favorit saya. Kalau boleh memilih, di kehidupan
selanjutnya saya ingin reinkarnasi. Entah jadi apa. Mungkin jadi manusia lagi
beberapa abad kemudian. Pasti seru melihat perkembangan teknologi. Atau
mungkin, reinkarnasi jadi sekuntum bunga di tepi danau. Bisa juga jadi awan.
Jadi burung. Jadi setetes air yang mengalir di samudra. Kata orang, konsep
reinkarnasi berhubungan erat dengan karma. Makin baik karma seseorang, makin
baik pula wujudnya di kehidupan yang berikut.
Dulu kehidupan setelah mati membuat
saya penasaran. Saat SMA, saya melakukan banyak pencarian tentangnya. Sebagian
berasal dari kitab suci. Sejak dulu saya biasa melihat Alquran dan Alkitab disimpan
berdampingan. Begitu juga kitab suci agama lainnya, biasa ditata bertumpuk dan
bebas dibaca. Jadi saya mempelajarinya tanpa ragu. Ternyata, konsep hidup
setelah mati berbeda di tiap agama. Ada yang langsung lanjut ke surga dan
neraka. Ada yang melalui tahapan rumit dulu, dengan waktu yang sangat lama. Ada
yang mati, reinkarnasi, lalu hidup lagi. Beda-beda pokoknya. Namun saya tak
ingin menyimpulkan mana yang benar dan salah. Sebab agama adalah tentang
meyakini. Tak perlu diperdebatkan segala.
Kemudian saya mencari di berbagai
buku, film, lukisan, hingga artikel ilmiah. Apa tujuannya? Untuk menemukan
kebenaran? Tidak. Kebenaran itu akan muncul sendiri saat saya meninggal. Saya
mencari-cari hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu. Sebab pikiran saya terlalu
aktif. Kelewat suka menganalisis sesuatu. Jadi saya lakukan saja sebagai hobi.
Dari pencarian itu, saya mendapat
hasil yang lumayan. Ada sejumlah kondisi yang mungkin terjadi setelah manusia
meninggal. Tebakan pertama saya adalah surga dan neraka, seperti yang diyakini
banyak orang di dunia. Orang baik masuk surga. Orang jahat masuk neraka. Lalu
tebakan kedua adalah reinkarnasi, seperti yang sudah saya jelaskan tadi.
Prosesnya tergantung pada karma semasa hidup. Sedangkan tebakan ketiga adalah
tidak ada apa-apa, yaitu kondisi yang diinginkan kawan saya di awal tulisan.
Tak ada suara, tak ada cahaya, tak ada apa pun.
Masih ada tebakan keempat dan kelima.
Setelah meninggal, mungkin kita pindah hidup ke dimensi lain. Misalnya saat ini
saya adalah perempuan yang tinggal di dimensi A. Lalu setelah meninggal, saya
pindah ke dimensi B—tapi sebagai laki-laki. Kedua dimensi itu tetap ada dan
utuh, tapi tak menyadari keberadaan lainnya. Sedangkan tebakan terakhir adalah
menjadi hantu. Mungkin orang yang meninggal tak benar-benar lepas dari dunia.
Tetap menjalani hidup seperti biasa, tapi sebagai roh. Tak bisa interaksi
dengan yang masih hidup.
Itulah tebakan-tebakan saya. Tak
perlu dibawa serius, sebab ditulis hanya untuk bersenang-senang. Lho, kematian
kok dikaitkan dengan kesenangan? Bukannya harus selalu dibayangi rasa takut dan
waspada? Tidak juga. Seorang kawan saya pernah bilang, kita tak perlu takut
menghadapi kematian. “Lakukan yang terbaik selama masih bernapas. Hiduplah
dengan maksimal. Jadi saat meninggal—entah puluhan tahun lagi atau sehari
lagi—kita tak akan menyesal. Mari hadapi kematian dengan berani,” ujarnya.
6 comments
Jujur ya Pandan, aku muslim yang bisa dibilang sangat meyakini agamaku. Tapi soal hidup setelah kematian, aku nggak mau berpikir terlalu rumit. Sampai-sampai melakukan kebaikan agar masuk surga misalnya. Aku justru berpikir, berlaku baiklah selagi bisa. Karena ya yang benar-benar kita tahu hidup itu sekali. Terus soal melakukan dosa membuat masuk neraka, ya simple aku artikan dengan jangan berbuat buruk. kenapa mesti buruk, selama bisa mengusahakan yang baik?
ReplyDeleteNice sharing Pandan!
Menarik nih pendapatnya Mbak Erny. Memang paling enak kalau dipikir simpel. Bertahun-tahun lalu, waktu masih labil, saya pernah perhitungan banget soal dosa dan pahala yang saya lakukan. Jadinya malah stres. Nggak bisa menikmati hidup, apalagi memaknainya. Lama-lama nggak begitu lagi. Setuju sama Mbak Erny, "Berlaku baiklah selagi bisa, dan jangan berbuat buruk."
DeleteThank you sudah baca dan komentar :D
Ini sangat menarik :)
ReplyDeleteTerima kasih sudah membaca. Tunggu tulisan-tulisan selanjutnya. Dalam waktu dekat, saya akan menulis pemahaman pada cinta beda agama. Semoga berkenan :)
DeleteAku mengimani kehidupan kekal seperti yg diajarkan di agamaku. Bahkan semua orang baik atau buruk pun punya kesempatan yg sama untuk masuk surga.
ReplyDeleteAku hanya ingin berbuat baik kepada sesama, alam, dan Tuhan. Soal kematian pun, aku gak takut. yang aku takutkan aku gak sempat membahagiakan orang2 di sekitarku sebelum aku meninggal.
Terima kasih sudah berbagi Pandan. :)
Wah senang baca pendapatnya Mas Edo. Saya juga berpikir, orang-orang punya kesempatan yang sama untuk masuk surga. Tapi sebelum itu kita punya kewajiban untuk hidup. Sebenarnya untuk apa Tuhan menciptakan kita di dunia? Apa sekadar transit sebelum ke alam baka? Mungkin tidak. Menurut saya, Tuhan punya misi untuk manusia. Salah satunya adalah memberi manfaat pada sesama. Termasuk membahagiakan orang lain, seperti kata Mas Edo :)
DeleteSama-sama, terima kasih sudah membaca dan komentar :D