Memahami Cinta Beda Agama (2)
Saturday, February 18, 2017
Akhir tahun lalu saya menulis tentang
cinta beda agama (bisa dibaca di sini). Tak lama setelah merilisnya, seorang
kawan menghubungi saya. Sebut saja Johan. Ternyata dia membaca tulisan itu. “Cinta
beda agama memang mendewasakan kita,” katanya setuju. Namun ada secercah sedih
yang melintas. Benar saja, Johan bercerita tentang pengalamannya sendiri.
Ternyata beberapa hari sebelumnya, dia putus dengan sang pacar. Padahal sudah
pacaran selama beberapa tahun. Bahkan sedang sayang-sayangnya. Lantas kenapa
putus? Ternyata karena beda agama. Johan beragama Katolik, pacarnya Islam.
![]() |
Photo by Everton Vila on Unsplash |
Cinta beda agama memang bikin
bingung. Sebagian orang lebih suka menghindarinya. Sejak awal, mereka berusaha
pacaran dengan orang yang seiman. Jadi tak perlu was-was bakal berpisah karena
agama. Namun, kita tak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Sebab cinta
terjadi begitu saja—cepat, mendadak, dan seringkali sulit dihentikan. Mungkin
itulah yang terjadi pada Johan dan pacarnya. Mereka jatuh cinta dan menjalin
hubungan. Seiring berjalannya waktu, muncul harapan ke jenjang selanjutnya:
pernikahan. Namun terhalang perbedaan agama.
Pacar Johan, sebut saja Salma,
berasal dari keluarga yang Islamnya kuat. Saya tak pernah bertemu dengannya. Namun
dari sejumlah cerita, tampaknya Salma adalah perempuan yang baik. Berkerudung seperti
muslimah pada umumnya. Sedangkan Johan lahir di keluarga Katolik. Pernah belajar
di institusi Katolik selama bertahun-tahun. Saya tak tahu seperti apa mereka
saat pacaran dulu. Dari cerita Johan, tampaknya bisa saling toleran.
Menghormati agama dan keyakinan masing-masing. Saya salut sekali, sebab tak
banyak orang bisa melakukannya.
Masalah terjadi saat wacana pernikahan
muncul. Johan dan Salma memang sudah cukup umur untuk menikah. Kebetulan ajakan
datang dari Salma. Dia sudah berdiskusi dengan keluarganya. Mereka setuju, asal
Johan mau pindah agama jadi Islam. Waduh. Johan tak berkenan melakukannya.
Tentu dia menyayangi Salma—tapi saat agama jadi pertaruhan, pasti berat sekali.
Pada akhirnya mereka memilih untuk putus. Saling melepas, lantas melanjutkan
hidup masing-masing. Barangkali dengan hati yang hancur.
“Rasanya memang sakit, tapi mau
bagaimana lagi,” kata Johan suatu hari. Saya jadi ikut sedih. Sebenarnya, saya
dan Johan mengalami hal yang mirip. Kami sama-sama putus karena beda keyakinan.
Namun kasus saya lebih ringan, sebab hanya pacaran beberapa bulan. Bukan
beberapa tahun seperti Johan. Tapi karena lebih muda dan labil, saya kebingungan.
Dulu saya pikir cinta bisa menang di atas segalanya—mulai dari keluarga, jarak,
usia, sampai perbedaan agama. Ternyata tidak. Ada hal-hal yang tak bisa diubah.
Tak bisa dikalahkan. Cintalah yang harus mundur dan pergi.
Di saat seperti itu, kita tak perlu
memaksakan diri. Berhentilah berjuang kalau hanya menoreh luka. Lebih baik belajar
melepas. Belajar memaafkan. Belajar merelakan supaya perasaan jadi damai. Seperti
kata Kahlil Gibran, “If you love somebody, let them go. If they return, they
were always yours. And if they don't, they never were.”
Pacaran beda keyakinan memang berisiko.
Namun saya tetap mau menjalaninya. Sebab di balik semua risiko itu, ada manfaat
yang besar. Tentu ini beda-beda untuk setiap orang. Buat saya, perbedaan agama
justru membuat hubungan lebih bermakna. Lebih luas dan warna-warni. Kalau Anda
tak setuju ya tak mengapa—toh tiap orang punya keyakinan sendiri. Apa semua
hubungan beda agama pasti berakhir gagal? Tidak. Kalau memang ditakdirkan,
pasti akan bersama. Buktinya banyak pasangan beda agama yang menikah. Salah
satunya adalah paman dan bibi saya. Mereka bisa membangun keluarga dengan
bahagia dan baik-baik saja.
Bagaimana agar berhasil dalam
hubungan beda agama? Menurut saya, yang penting adalah memilih pasangan dengan
tepat. Some people will only love you as
long as you fit in their box. Kalau mau hidup bersama, penyesuaian diri
memang perlu. Tapi jangan melakukan perubahan yang membuat kita kehilangan diri
sendiri. Pilihlah orang yang toleran. Yang mau menerima apa adanya. Yang menghormati
walau beda keyakinan. Selamat berusaha!
0 comments